Typing practice
Start typing when you're ready.
Time: 00:00
CPM: 0
Accuracy: 0%
Dalam tradisi ilmu tauhid yang diwariskan oleh para ulama Ahlussunnah wal Jamaah, pembahasan tentang sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah serta bagi para Rasul merupakan pondasi kokoh yang menjaga kemurnian akidah dan keteguhan keyakinan. Ilmu ini tidak sekadar pelajaran teori tentang konsep ketuhanan, tetapi merupakan cahaya yang menuntun seorang hamba agar mengenal Tuhannya dengan benar, memurnikan ibadahnya, dan memantapkan arah perjalanan rohaninya.Ketika seorang hamba memahami dengan sungguh sungguh siapa Tuhannya, apa sifat yang layak bagiNya, apa yang tidak mungkin bagiNya, dan apa yang boleh bagiNya, maka ia tidak akan mudah digoyahkan oleh keraguan atau syubhat. Ia akan memandang kehidupan ini dengan keyakinan jernih, memandang alam semesta dengan kekaguman yang benar, dan menyembah Allah dengan kesadaran yang penuh. Begitu pula ketika seorang mukmin memahami sifat sifat wajib bagi para Rasul, sifat sifat mustahil bagi mereka, dan satu sifat jaiz bagi mereka, maka ia mampu menilai risalah kenabian dengan sikap ilmiah yang penuh ketundukan, sekaligus menjadikan perjuangan para Rasul sebagai teladan yang menerangi langkah hidupnya.Naskah ini disusun untuk menggugah batin, meneguhkan akal, dan menghidupkan rasa syukur atas betapa sempurna Allah yang kita sembah, serta betapa mulianya para Rasul yang diutus sebagai pembawa kebenaran. Pembahasan ini bukan sekadar teori, melainkan fondasi yang menyatukan hati manusia dengan Rabbnya dan nabinya, serta menjadi bekal untuk menjalani hidup dalam keimanan yang mantap. Sifat wajib bagi Allah adalah sifat sifat yang keberadaannya pasti ada pada diri Allah dan tidak mungkin tidak ada. Sifat sifat ini menggambarkan kesempurnaan mutlak Allah yang tidak terhingga. Ketika seorang hamba mengetahui sifat sifat wajib ini, ia seolah memandang langit ilmu yang tidak bertepi. Ia menyadari betapa agung Allah, betapa sempurnaNya, dan betapa seluruh ciptaan di alam raya hanyalah sebutir debu dalam keluasan kekuasaanNya.Para ulama menyebutkan ada dua puluh sifat wajib bagi Allah yang menjadi fondasi utama. Namun jumlah tersebut hanyalah rangkuman dari kesempurnaan yang tidak terbatas. Dua puluh sifat wajib tersebut mencakup wujud, qidam, baqa, mukhalafatu lil hawadits, qiyamuhu binafsih, wahdaniyah, qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama, basar, dan kalam, serta sifat sifat yang berkaitan dengan takwin dan sifat maani yang lain.Ketika seorang mukmin memahami bahwa Allah itu wajib bersifat wujud, maka ia menyadari bahwa keberadaan seluruh makhluk bergantung kepadaNya. Keberadaan Allah tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak diakhiri oleh kehancuran. Ia adalah sumber dari segala wujud. Seluruh makhluk ada karena diciptakan olehNya, sedangkan Allah ada tanpa membutuhkan siapa pun. Kesadaran ini membuat hati seorang mukmin merasa aman. Ia menyandarkan eksistensinya kepada Zat yang tidak pernah lenyap. Ketika seseorang memahami bahwa Allah bersifat qidam, ia menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun sebelum Allah. Ia adalah yang pertama tanpa permulaan. Dengan memahami sifat baqa, seorang hamba yakin bahwa Allah tidak pernah akan berakhir. Semua makhluk akan musnah, namun Allah tetap ada sebagaimana adanya. Ketika dunia bergoncang dan segala sesuatu tidak lagi memberi jaminan, seorang mukmin tetap teguh karena ia berpegang kepada Zat yang tidak berubah. Sifat mukhalafatu lil hawadits mengajarkan kepada kita bahwa Allah tidak sama dengan makhluk. Tidak menyerupai manusia, tidak menyerupai alam, tidak menyerupai cahaya atau materi apa pun. Ia tidak berada pada arah, tidak terikat tempat, tidak berubah oleh waktu. Dialah Al Khaliq yang berbeda secara mutlak dari ciptaan. Pemahaman ini menghancurkan semua khayalan dan bayangan yang mungkin terlintas tentang Allah. Setiap kali hati mulai membayangkan Allah seperti sesuatu, ia segera sadar bahwa Allah berbeda dari semua itu. Ketika seorang hamba memahami qiyamuhu binafsih, ia sadar bahwa Allah tidak membutuhkan tempat, tidak butuh ruang, tidak butuh dukungan. Segalanya bergantung kepadaNya, tetapi Ia tidak bergantung kepada apa pun. Sungai butuh aliran, api butuh bahan bakar, makhluk butuh sebab, tetapi Allah tidak. Kesadaran ini mengajarkan bahwa hanya Allah tempat bergantung. Sifat wahdaniyah mengingatkan seorang hamba bahwa Allah itu satu secara zat, sifat, dan perbuatan. Tidak ada sekutu bagiNya dalam penciptaan. Tidak ada yang menyamaiNya dalam kekuasaan. Kesadaran ini menghilangkan segala bentuk syirik halus. Tidak ada yang dapat mendatangkan manfaat atau mudarat kecuali dengan izin Allah. Sifat mustahil bagi Allah adalah sifat sifat yang tidak mungkin ada pada diri Allah. Ketika seorang mukmin memahami sifat sifat mustahil ini, ia seperti sedang membersihkan cermin keyakinan dari segala kotoran. Tidak cukup bagi seorang hamba hanya mengenal apa yang wajib bagi Allah, tetapi ia juga harus mengetahui apa yang mustahil bagi Allah agar tidak terjerumus dalam kesalahan konsep. Mustahil bagi Allah bersifat adam. Mustahil Allah itu tidak ada. Allah adalah Zat yang keberadaanNya bersifat pasti. Mustahil bagi Allah memiliki permulaan atau akhir. Mustahil bagi Allah membutuhkan tempat atau disifati dengan kelemahan makhluk. Mustahil Allah bodoh, mustahil Allah lupa, mustahil Allah mati, mustahil Allah tuli atau buta, mustahil Allah bisu, mustahil Allah menyesal, mustahil Allah berubah pikiran, mustahil Allah lemah dalam melakukan sesuatu, mustahil Allah melakukan sesuatu karena terpaksa, dan mustahil Allah menyerupai makhluk dalam sifat atau bentuk apa pun. Mengetahui sifat sifat mustahil ini membuat seorang hamba selamat dari pemahaman yang rusak. Ketika seseorang membayangkan Allah berada di atas suatu arah, ia telah terjerumus dalam pemahaman yang menyimpang, karena arah hanya layak bagi makhluk. Ketika seseorang membayangkan Allah duduk atau turun dalam arti fisik, ia telah menyamakan Allah dengan makhluk. Ilmu ini menjaga akidah agar tetap suci dari pengaruh pemikiran yang menjerumuskan. Satu satu sifat jaiz bagi Allah adalah fi lu kulli mumkinin aw tarkuhu, yaitu Allah boleh menciptakan sesuatu atau tidak menciptakannya. Semua kehendak Allah tidak terikat. Allah boleh menghidupkan, boleh mematikan, boleh memberi rezeki, boleh menahan rezeki, boleh memuliakan, boleh menghinakan, dan semua itu sesuai ilmu dan hikmahNya. Allah tidak terikat oleh keharusan. Tidak ada yang dapat memaksa Allah melakukan sesuatu. Allah berbuat apa saja sesuai kehendak dan kebijaksanaanNya. Ketika seorang hamba memahami hal ini, ia tidak akan memaksa Allah untuk memenuhi keinginannya. Ia menyadari bahwa doa adalah ibadah, tetapi hasilnya tetap keputusan Allah. Ia bersikap ridha atas takdir. Ia memahami bahwa yang menentukan langkah hidupnya bukan dirinya sendiri, tetapi Allah Yang Maha Mengetahui. Para Rasul adalah manusia pilihan yang diberikan kemuliaan berupa sifat sifat kesempurnaan yang wajib ada pada diri mereka. Sifat wajib tersebut ada empat, yaitu siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Siddiq berarti para Rasul selalu berkata dan berbuat benar. Mereka tidak mungkin berdusta. Kebenaran perkataan mereka bukan sekadar kejujuran moral, tetapi kebenaran ilahi yang memancarkan wahyu dan petunjuk. Ketika seorang mukmin memahami hal ini, ia akan memandang setiap wahyu yang disampaikan Rasul sebagai kebenaran absolut yang tidak perlu diragukan. Amanah berarti para Rasul terjaga dari pengkhianatan. Mereka tidak menyembunyikan wahyu, tidak mengubah perintah Allah, dan tidak menyampaikan sesuatu yang bertentangan dengan risalah. Ini memberikan ketenangan kepada umat bahwa agama yang disampaikan oleh para Rasul bukan buatan manusia, melainkan amanat suci dari Rabb semesta alam. Tabligh berarti para Rasul menyampaikan seluruh wahyu yang diperintahkan Allah kepada mereka. Mereka tidak menahan sebagian, tidak menambah, tidak mengurangi. Sifat tabligh menjamin kesempurnaan syariat yang dibawa para Rasul. Tidak ada kegelapan dalam ilmu, karena semuanya telah disampaikan. Fathanah berarti para Rasul memiliki kecerdasan luar biasa. Mereka sangat cerdas dalam menyampaikan risalah, memahami kondisi umat, menghadapi musuh, dan menata umat. Kecerdasan mereka tidak sekadar kecerdasan logika, tetapi kecerdasan wahyu. Dengan sifat inilah para Rasul mampu menghadapi bangsa bangsa besar dengan kebijaksanaan ilahi. Jika ada sifat wajib, maka pasti ada sifat mustahil. Mustahil para Rasul memiliki sifat kadzib atau dusta. Mustahil mereka berkhianat. Mustahil mereka menyembunyikan wahyu. Mustahil mereka bodoh atau dungu. Sifat sifat mustahil ini menjaga kehormatan risalah. Sebab jika seorang Rasul mungkin berdusta, maka runtuhlah seluruh agama. Ketika umat memahami hal ini, mereka tidak akan terpengaruh oleh fitnah yang ditujukan kepada para Rasul. Tidak akan goyah oleh tuduhan tuduhan kafir yang menyebut Rasul sebagai penyair, tukang sihir, atau pendusta. Sebab mereka yakin sifat sifat tersebut mustahil bagi Rasul. Sifat jaiz bagi Rasul adalah sifat sifat kemanusiaan yang tidak merusak martabat kenabian. Para Rasul makan, minum, berjalan di pasar, menikah, sakit, dan pada akhirnya wafat. Sifat ini menjadi bukti bahwa mereka manusia, bukan malaikat. Namun semua itu tidak mengurangi kemuliaan mereka karena sifat sifat wajib yang mereka miliki tetap terjaga. Ilmu sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah serta bagi Rasul bukanlah ilmu yang kering atau sekadar hafalan. Ia adalah ilmu pengokoh iman. Ia adalah cahaya yang membimbing akal dan hati. Ia adalah jembatan menuju pengenalan kepada Allah dan pengenalan kepada RasulNya. Ketika seorang hamba memahami sifat sifat Allah, ia tidak hanya mengenal Tuhannya, tetapi ia juga mengenal dirinya. Ia sadar betapa lemahnya ia dibandingkan Zat Yang Maha Kuat. Ia sadar betapa sedikit ilmunya dibandingkan Yang Maha Mengetahui. Ia sadar betapa ia bergantung kepada Allah yang tidak bergantung kepada siapa pun. Ketika seorang hamba memahami sifat sifat Rasul, ia akan semakin mencintai mereka, semakin mengikuti mereka, dan semakin menghargai perjuangan mereka. Ia menyadari bahwa mereka adalah manusia terbaik yang pernah ada, yang membawa risalah kebenaran ke seluruh penjuru dunia. Akhirnya ilmu ini menumbuhkan rasa syukur, menenangkan hati, dan menguatkan keyakinan. Dengan ilmu tauhid, seorang mukmin tidak hanya beragama, tetapi benar benar mengenal siapa yang ia sembah dan siapa yang ia ikuti. Dengan ilmu tauhid, seorang mukmin akan melangkah dengan mantap, beribadah dengan ikhlas, dan menjalani hidup dengan arah yang jelas. Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah dan aliran sungai yang tenang hiduplah seorang anak bernama Hasan. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana ayahnya seorang petani ibunya penenun tikar pandan. Sejak kecil Hasan terbiasa mendengar suara adzan yang menggema dari surau tua di tengah desa. Surau itu tidak besar dindingnya dari kayu lantainya dari tanah yang dipadatkan namun di sanalah denyut kehidupan ruhani warga desa berpusat. Setiap waktu sholat orang orang datang dengan wajah bersih dan hati yang berharap. Hasan adalah anak yang gemar bertanya. Setiap kali melihat ayahnya berdiri menghadap kiblat lalu rukuk dan sujud dengan penuh khusyuk Hasan selalu bertanya apa makna dari setiap gerakan itu. Ayahnya menjawab dengan sederhana bahwa sholat adalah perjumpaan hamba dengan Tuhannya. Namun jawaban itu belum memuaskan rasa ingin tahu Hasan. Ia ingin memahami lebih dalam bukan sekadar meniru gerakan. Suatu sore setelah asar Hasan duduk di serambi surau bersama seorang kiai tua bernama Kiai Umar. Kiai Umar dikenal sebagai orang yang ilmunya luas dan hatinya lembut. Janggutnya memutih matanya teduh suaranya pelan namun tegas. Hasan memberanikan diri bertanya tentang sholat. Kiai Umar tersenyum dan berkata bahwa sholat itu ibarat perjalanan panjang yang tersusun dari rukun rukun. Tanpa rukun perjalanan itu tidak sah dan tidak sampai tujuan. Kiai Umar mengajak Hasan berjalan menyusuri sawah. Ia berkata bahwa ada tujuh belas rukun dalam sholat fardu yang menjadi tiang penopang ibadah itu. Setiap rukun bukan hanya gerakan tetapi juga sikap hati. Hasan mendengarkan dengan penuh perhatian langkah kakinya mengikuti langkah sang kiai seolah setiap jejak adalah pelajaran. Rukun pertama adalah niat. Kiai Umar menjelaskan bahwa niat adalah arah perjalanan. Tanpa niat seseorang tidak tahu ke mana ia melangkah. Hasan teringat ketika ayahnya pergi ke sawah selalu berniat menanam padi agar keluarganya bisa makan. Begitu pula sholat niat menentukan bahwa langkah itu ditujukan hanya kepada Allah. Niat tidak perlu diucapkan keras cukup terpatri dalam hati yang sadar dan tulus. Rukun kedua adalah berdiri bagi yang mampu. Kiai Umar berhenti di pematang sawah dan berdiri tegak menghadap barat. Ia menjelaskan bahwa berdiri adalah lambang kesiapan dan penghormatan. Seorang hamba berdiri di hadapan Tuhannya dengan penuh rendah hati. Hasan mencoba berdiri menegakkan punggungnya merasakan ada rasa hormat yang mengalir dalam tubuhnya. Rukun ketiga adalah takbiratul ihram. Kiai Umar mengangkat kedua tangannya setinggi telinga. Ia berkata bahwa dengan takbir ini seseorang memasuki wilayah suci sholat meninggalkan urusan dunia. Hasan membayangkan seolah sebuah pintu besar terbuka dan ia melangkah masuk meninggalkan hiruk pikuk kehidupan. Rukun keempat adalah membaca surat al Fatihah. Kiai Umar menuturkan bahwa al Fatihah adalah dialog antara hamba dan Allah. Setiap ayatnya adalah pengakuan dan permohonan. Hasan merasa kagum karena selama ini ia membaca al Fatihah tanpa menyadari betapa dekatnya percakapan itu. Rukun kelima adalah rukuk. Kiai Umar membungkukkan badan dengan punggung lurus. Ia menjelaskan bahwa rukuk adalah simbol kerendahan diri. Hasan teringat padi yang semakin berisi semakin merunduk. Begitulah seharusnya manusia semakin berilmu semakin tawaduk. Rukun keenam adalah tumakninah dalam rukuk. Kiai Umar menekankan bahwa tenang adalah kunci. Gerakan yang tergesa menunjukkan hati yang belum hadir. Hasan belajar bahwa ketenangan dalam sholat melatih ketenangan dalam hidup. Rukun ketujuh adalah itidal. Kiai Umar berdiri kembali dengan tenang. Ia berkata bahwa itidal adalah keseimbangan. Manusia tidak boleh terus menunduk atau terlalu tinggi. Ada saatnya merendah ada saatnya berdiri seimbang. Hasan merasakan pelajaran hidup dalam gerakan itu. Rukun kedelapan adalah tumakninah dalam itidal. Kiai Umar kembali menegaskan pentingnya diam sejenak. Dalam diam itu hati menyerap makna syukur. Hasan memejamkan mata sejenak merasakan hembusan angin sawah seolah alam ikut bertasbih. Rukun kesembilan adalah sujud. Kiai Umar turun ke tanah meletakkan dahi ke bumi. Ia berkata bahwa sujud adalah puncak kedekatan. Ketika dahi menyentuh tanah ego runtuh dan hanya ada kepasrahan. Hasan merasakan getaran aneh dalam dadanya ketika membayangkan sujud yang tulus. Rukun kesepuluh adalah tumakninah dalam sujud. Kiai Umar berlama lama dalam posisi itu. Ia berkata bahwa di sanalah doa paling dekat dikabulkan. Hasan memahami bahwa kesabaran dalam sujud mengajarkan kesabaran dalam menghadapi cobaan. Rukun kesebelas adalah duduk di antara dua sujud. Kiai Umar duduk dengan tenang. Ia menjelaskan bahwa duduk ini adalah saat memohon ampun dan rahmat. Hasan teringat kesalahan kesalahannya dan berharap Allah mengampuni. Rukun kedua belas adalah tumakninah dalam duduk di antara dua sujud. Kiai Umar menegaskan lagi tentang ketenangan. Hasan mulai mengerti bahwa hampir setiap rukun disertai tumakninah karena sholat bukan sekadar rangkaian cepat tetapi perjalanan yang disadari. Rukun ketiga belas adalah sujud kedua. Kiai Umar kembali sujud. Ia berkata bahwa pengulangan sujud mengajarkan konsistensi. Tidak cukup sekali merendah tetapi berkali kali. Hasan merasa pelajaran ini sangat dalam. Rukun keempat belas adalah duduk tasyahud akhir. Kiai Umar duduk lebih lama kali ini. Ia menjelaskan bahwa tasyahud adalah kesaksian iman. Hasan membayangkan dirinya bersaksi atas keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad dengan penuh keyakinan. Rukun kelima belas adalah membaca tasyahud akhir. Kiai Umar melafalkan dengan suara lirih. Ia berkata bahwa bacaan ini adalah pernyataan setia seorang hamba. Hasan merasa hatinya hangat membayangkan salam dan doa yang mengalir. Rukun keenam belas adalah membaca shalawat kepada Nabi dalam tasyahud akhir. Kiai Umar menjelaskan bahwa cinta kepada Nabi adalah bagian dari iman. Hasan teringat kisah kisah Nabi yang sering diceritakan ibunya sebelum tidur. Rukun ketujuh belas adalah salam. Kiai Umar menoleh ke kanan dan kiri. Ia berkata bahwa salam adalah penutup perjalanan dan jembatan kembali ke dunia. Setelah berjumpa dengan Allah seorang hamba kembali membawa kedamaian untuk sesama. Setelah perjalanan itu Hasan pulang dengan hati yang berbeda. Malam itu ia melaksanakan sholat dengan penuh kesadaran. Setiap rukun ia jalani dengan tenang seolah mengingat kembali langkah langkah bersama Kiai Umar di sawah. Ia merasakan sholat bukan lagi kewajiban yang berat tetapi kebutuhan jiwa. Hari hari berlalu Hasan tumbuh menjadi pemuda yang dikenal rajin sholat dan berakhlak baik. Ia sering mengajarkan anak anak kecil di surau tentang sholat dengan cara bercerita. Ia tidak hanya mengajarkan gerakan tetapi juga makna. Anak anak mendengarkan dengan antusias karena cerita Hasan hidup dan dekat dengan keseharian mereka. Suatu hari Kiai Umar wafat. Desa berduka namun ajarannya tetap hidup. Hasan berdiri di depan surau menggantikan peran sang kiai mengajarkan sholat kepada generasi berikutnya. Ia selalu memulai dengan cerita tentang perjalanan di sawah tujuh belas rukun yang membentuk sholat. Hasan menyadari bahwa sholat adalah sekolah kehidupan. Dari niat hingga salam semua mengajarkan nilai. Keikhlasan kesiapan pengagungan kerendahan keseimbangan kesabaran pengakuan cinta dan kedamaian. Semua tersusun rapi dalam tujuh belas rukun. Di usia dewasa Hasan menjadi ayah. Ia mengajarkan sholat kepada anaknya dengan penuh kasih. Ia mengajak anaknya berjalan menyusuri sawah seperti dulu Kiai Umar mengajaknya. Ia menjelaskan setiap rukun dengan bahasa sederhana. Anak itu mendengarkan dengan mata berbinar. Hasan merasa bersyukur karena rantai ilmu tidak terputus. Sholat terus diajarkan bukan sebagai beban tetapi sebagai kisah perjalanan ruhani. Desa kecil itu tetap sederhana namun sholat menjadi cahaya yang menerangi. Ketika Hasan menutup sholat dengan salam ia selalu teringat pesan Kiai Umar bahwa salam adalah membawa damai. Ia berusaha menjadikan sholat mempengaruhi sikapnya kepada tetangga kepada alam kepada keluarga. Ia menebar senyum membantu yang lemah dan menjaga amanah. Cerita Hasan menyebar ke desa desa lain. Orang orang datang belajar tentang sholat yang hidup bukan sekadar hafalan. Mereka merasakan bahwa memahami tujuh belas rukun dengan hati membuat sholat lebih bermakna. Pada suatu subuh Hasan berdiri di surau yang sama. Suara adzan berkumandang udara dingin menusuk. Ia berdiri menghadap kiblat berniat dengan tulus. Dalam hatinya ia merasakan perjalanan panjang dari seorang anak yang penasaran hingga menjadi penjaga warisan ilmu. Ia sadar bahwa sholat akan selalu menjadi penghubung antara bumi dan langit. Dan begitulah sholat dengan tujuh belas rukunnya menjadi cerita yang terus hidup. Bukan hanya di lisan tetapi di perbuatan. Bukan hanya di surau tetapi di setiap langkah kehidupan. Sholat bukan sekadar ritual tetapi napas iman yang menghidupkan hati manusia.